A. LATAR BELAKANG
Induksi mungkin berupa satu proses sederhana, dan seketika itu juga terselenggara melalui suatu pandangan, tetapi mungkin pula berupa suatu proses yang panjang, sangat sukar dan berlipat-lipat mencakup analisis bertahap, kecermatan pandangan dan proses trial and error. Sebagaimana apabila ilmuan terlibat dalam penemuan hukum alam atau dalam masalah ilmiah yang begitu berseluk-beluk seperti masalah-masalah sosial.
Makalah ini kami bahas dengan tujuan agar para mahasiswa mengetahui pengertian dari induksi dan dapat memahami hal-hal yang terkait dengan induksi.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Induksi
Induksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan ( inferensi )[1]. Proses penalaran ini mulai bergerak dari penelitian dan evaluasi atas fenomena-fenomena yang ada, karena suatu fenomena harus diteliti dan dievaluasi terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh ke proses penalaran induktif, maka proses penalaran itu juga disebut sebagai suatu corak berpikir yang ilmiah.
Aristoteles mendefinisikan induksi sebagai proses dari hal-hal yang bersifat individual kepada yang bersifat universal ( a passage from individuals to universal )[2]
Contoh : - Ahmad Mahasiswa STAIDRA rajin shalat
- Heri Mahasiswa STAIDRA rajin shalat
- Fatimah Mahasiswa STAIDRA rajin shalat
Konklusi : Semua Mahasiswa STAIDRA rajin shalat
2. Bentuk-bentuk Induksi
2.1. Generalisasi
Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena tadi. Tetapi sebagaimana telah dikatakan di atas, proses berfikir yang induktif tidak banyak artinya kalau tidak diikuti proses berpikir deduktif. Sebab itu generalisasi hanya akan mempunyai makna yang penting, kalau kesimpulan yang diturunkan dari sejumlah fenomena tadi bukan saja mencakup semua fenomena itu, tetapi juga harus berlaku pada fenomena-fenomena lain yang sejenis yang belum di selidiki.[3]
2.1.1. Syarat-syarat Generalisasi
2.1.1.1 Generalisasi harus tidak terbatas secara numeric.
Artinya, generalisasi tidak boleh terikat kepada jumlah tertentu. Kalau dikatakan bahwa “Semua A adalah B“, maka proposisi itu harus benar, berapapun jumlah A. Proposisi itu berlaku untuk setiap dan semua subyek yang memenuhi kondisi A.
2.1.1.2 Generalisasi harus tidak terbatas secara spasio-temporac, artinya tidak boleh terbatas dalam ruang dan waktu. Jadi harus berlaku di mana saja dan kapan saja.
2.1.1.3 Generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian. Yang dimaksud dengan dasar pengandaian di sini ialah : dasar dari yang di sebut “contrary-to-facts conditionals” atau “unfulfilled conditional” [4]
Contohnya yang jelas sebagai berikut :
Faktanya : X, Y, dan Z itu masing-masing bukan B.
Ada generalisasi : Semua A adalah B
Pengandaiannya : Andaikata X, Y, dan Z itu masing-masing sama dengan A atau dengan kata-kata lain : Andaikata X,Y dan Z itu masing-masing memenuhi kondisi A, maka pastilah X, Y, dan Z itu masing-masing sama dengan B
Generalisasi yang dapat dijadikan dasar untuk pengandaian seperti itulah kondisi yang memenuhi syarat.
Contoh : - Apel 1 keras dan hijau rasanya masam.
- Apel 2 keras dan hijau rasanya masam.
- Apel 3 keras dan hijau rasanya masam.
Konklusi/ generalisasi : Semua apel keras dan hijau rasanya masam.
2.1.2. Macam-macam Generalisasi
2.1.2.1. Generalisasi Sempurna
Generalisasi sempurna adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan di selidiki. Contoh : Setelah kita memperhatikan jumlah hari pada setiap bulan tahun masehi, kemudian disimpulkan bahwa semua bulan masehi mempunyai hari tidak lebih dari 31.
Dalam penyimpulan ini keseluruhan fenomena yaitu jumlah hari pada setiap bulan kita selidiki tanpa ada yang ketinggalan.
Generalisasi macam ini memberikan kesimpulan amat kuat dan tidak dapat diserang, tetapi tentu saja tidak praktis dan ekonomis. [5]
2.1.1.2. Generalisasi Tidak Sempurna
Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi yang berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.
Contoh : Setelah kita selidiki sebagian Bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa Bangsa Indonesia adalah manusia yang suka bergotong-royong.
Meskipun generalisasi ini tidak menghasilkan kesimpulan sampai tingkat pasti, tetapi generalisasi ini lebih praktis dan ekonomis.[6]
2.2. Analogi
Analogi atau kadang-kadang disebut juga analogi induktif adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain, kemudian menyimpulkan bahwa apa yang berlaku untuk suatu hal akan berlaku pula untuk hal yang lain. [7]
Contoh : Nina adalah tamatan Fakultas Ekonomi Universitas Omega. Ia telah memberikan prestasi yang luar biasa pada perusahaan Omicron, tempat ia bekerja. Ia telah mengajukan banyak usul mengenai cara pemecahan atas kesulitan-kesulitan yang dihadapi perusahaannya. Pada waktu penerimaan pegawai-pegawai baru, Direktur Perusahaan langsung menerima Tomi, karena Tomi adalah seorang alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Omega, seperti halnya Nina. Semua pelamar-pelamar yang lain diabaikan begitu saja.
Menurut logika Direktur, karena Tomi tamatan Fakultas Ekonomi Universitas Omega, maka pasti dia memiliki juga kecerdasan dan kualitas yang sama atau sekurang-kurangnya sama dengan Nina.
2.2.1. Bentuk Analogi Induktif
Seperti dalam hal generalisasi induktif, bentuk penalaran analogi induktif itu ditentukan oleh beberapa faktor [8] sebagai berikut:
- Jumlah fakta yang dijadikan dasar dari konklusinya dan dinyatakan sebagai premis. jumlah fakta tersebut merupakan faktor probabilitas yang pertama. Semakin besar jumlah fakta tersebut semakin tinggi probabilitasnya.
- Jumlah faktor-faktor analogi. Makin besar jumlah factor analoginya maka makin rendah probabilitasnya.
- Jumlah factor disanalogi. Semakin besar jumlah factor disanalogi, semakin tinggi probabilitasnya.
- Bentuk proposisi yang menjadi konklusinya. Makin luas konklusinya, makin rendah probabilitasnya.
C. KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah kami paparkan di atas, tentang berfikir secara benar dengan metode induktif dan juga bentuk-bentuk induktif. Dapat disimpulkan bahwa semua bentukpenalaran induktif tidak pernah sampai kepada kebenaran pasti, tetapi kemungkinan besar. Induktif tidak akan banyak bermanfaat kalau tidak diikuti oleh proses berfikir deduktif karena penalaran deduktif kebenarannya sudah pasti sedangkan penalaran induktif masih butuh pembuktian.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, Mohammad Ali. 1993. Logika. Surabaya : IAIN Sunan Ampel Press.
Mundiri. 2000. Logika. Jakarta : PT. Radja grafindo Persada.
Nur Alim, Ma’sum. 2000. Diktat Ilmu Logika. Lamongan : Biro Penelitian.
Poespoprodjo. 1999. Logika Ilmu Menalar. Bandung : Pustaka Grafika
Soekadijo. 2003. Logika Dasar : Tradisional, Simbolik, dan Induktif. Jakarta : PT. Gramedia Utama.
W. Poespoprodjo, T. Gilanso. 1999. logika Ilmu Menalar. Bandung : PT. Pustaka Grafika.
[1] Drs. Mohammad Ali Aziz, Logika, IAIN Sunan Ampel Press, Surabaya, 1993.hal : 70
[2] Soekadijo, Logika Dasar.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1991
[3] Ibid hal : 71
[4] Drs. Ma’sum Nur Alim M.Ag.Diktat Ilmu Logika. Biro Penelitian. Lamongan. 2000 Hal : 57
[5] Mundiri, Logika, Grafindo Persada, Jakarta, 2000. hal : 128
[6] Op. Cit, hal : 129
[7] Ibid, hal : 74
[8] R. G. Suekadijo, Logika Dasar, : Tradisional, Simbolik dan Induktif, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003 hal : 140.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar